TAHAP-TAHAP INTERACTION DESIGN

CODEORAYO COMMUNITY General Software Engineering TAHAP-TAHAP INTERACTION DESIGN

  • Post
    codeorayo
    Keymaster
    none
    Begitu banyak produk interaktif yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak semua dapat digunakan, memudahkan, dan nyaman untuk digunakan. Hal ini karena banyak produk yang membutuhkan interaksi namun tidak didesain sesuai dengan kebutuhan pengguna. Meskipun produk telah bekerja dengan efektif dari sisi teknis, namun seringkali menjadi beban saat akan digunakan pengguna dalam kehidupan nyata. Untuk memperbaiki hal ini, perlu adanya desain interaktif yang membawa usability ke dalam proses desain. Dengan demikian, produk interaktif yang mudah, efektif, dan menyenangkan untuk digunakan dapat tercipta dengan baik.

    Untuk dapat melakukan desain interaktif, maka perlu diketahui siapa saja yang akan menggunakan, di mana mereka akan menggunakan, dan jenis aktifitas yang dilakukan. Selain hal-hal tersebut, tahap-tahap dalam mendesain juga perlu diperhatikan antara lain:

    Mengidentifikasi kebutuhan

    Untuk mengidentifikasi kebutuhan, perlu diketahui tujuan yang akan dicapai berdasarkan kondisi saat ini. Untuk menentukan tujuan, maka dilakukan pencarian data (melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan sebagainya), kemudian analisis data, dan terakhir penentuan kebutuhan dasar. Pada tahap ini, sangat penting melakukan pendekatan yang melibatkan pengguna di dalamnya.

    Merancang desain-desain alternatif sesuai kebutuhan

    Merancang desain alternative dengan menyesuaikan spesifikasi/kebutuhan yang telah disepakati. Pada tahap ini terdapat 2 aktifitas yaitu:

    Desain konseptual mendeskripsikan pada apa dan bagaimana seharusnya produk bekerja begitu juga dengan tampilannya.

    Desain fisikal mempertimbangkan elemen-elemen yang diperlukan di dalam sebuah produk seperti suara, gambar, menu, icon, dan sebagainya.

    Membuat desain-desain versi interaktif yang dapat dinilai dan dicoba pengguna (prototyping)

    Dari desain-desain yang telah dirancang, kemudian disisipkan versi interaktif atau dengan kata lain, membuat prototype sehingga memungkinkan pengguna untuk menguji dan mengevaluasi terhadap desain interaktif tersebut. Pada dasarnya, pembuatan prototype yang paling cepat dan murah menggunakan pensil dan kertas untuk membuat sketsa. Adapun perangkat lunak seperti Visio, POP, Balsamiq, Axure bisa dimanfaatkan.

    Melakukan evaluasi

    Evaluasi perlu dilakukan untuk menilai produk dari sisi kegunaan (usability) dan penerimaan (acceptability) dengan disesuaikan pada kebutuhan atau spesifikasi pada tahap awal. Evaluasi ini sangat perlu melibatkan pengguna dan saran maupun komentar yang didapatkan dapat menjadi perbaikan untuk desain selanjutnya.

    Contoh: ketika menggunakan kartu regular atau fisik, pengguna harus selalu membawa ke manapun. Hal ini akan membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih banyak apalagi bila kartu fisik yang dimiliki sangat banyak. Membawa kartu fisik juga kurang aman karena bisa berisiko kehilangan. Kalau kartu hilang, pengguna harus mengurus kartunya ke penyedia dengan syarat, biaya, dan waktu yang tidak sedikit. Dari permasalahan ini, maka adanya kebutuhan untuk membuat kartu virtual di dalam aplikasi mobile. Aplikasi mobile berarti aplikasi yang ditanamkan pada telepon seluler. Mengapa dalam bentuk aplikasi mobile? Sebagaimana kita ketahui bahwa mayoritas pengguna selalu membawa telepon seluler ketika berpergian, ini tentu mendukung penggunaan kartu lebih cepat, nyaman, dan mudah.

    Dari tujuan yang ingin dicapai yaitu membuat kartu virtual di dalam aplikasi mobile, kemudian dirancang desain dengan mempertimbangkan dari sisi konseptual dan fisikal. Dari sisi konseptual, ditentukan apa dan bagaimana seharusnya produk tersebut bekerja. Ini memfokuskan pada user experience. Di dalam aplikasi tersebut, salah satu pertimbangan adalah apakah pengguna harus selalu login atau login hanya sekali pada saat instalasi atau mungkin tidak perlu login sama sekali ketika mau menggunakan aplikasi. Ini perlu mempertimbangkan aspek kemudahan, kenyamanan, dan keamanan. Dari sisi fisikal, ditentukan warna apa yang cocok untuk background dan teks, pemilihan warna sebaiknya mempertimbangkan penderita buta warna baik total atau parsial. Selain itu, bentuk tampilan dalam bentuk list atau icon atau icon dan list.

    Setelah desain dirancang, dibuat prototype sehingga dapat dicoba oleh beberapa pengguna baik dari sisi internal maupun eksternal untuk dapat diberikan evaluasi. Hasil evaluasi digunakan kembali untuk perbaikan desain selanjutnya.

    https://socs.binus.ac.id/2017/06/13/tahap-tahap-interaction-design/

  • You must be logged in to reply to this topic.